Museum Dirgantara Mandala Yogyakarta, juga dikenal sebagai Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, museum yang menyimpan sejarah perkembangan dunia penerbangan, khususnya TNI AU di Indonesia.
Pada tanggal 29 Juli 1978 diresmikan sebagai Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala. Pada tahun 1984, museum dipindahkan ke Wonocatur, tepatnya ke sebuah gedung bekas pabrik gula yang dibangun semasa penjajahan Belanda. Museum ini menyajikan secara lengkap sejarah penerbangan dan dunia penerbangan di Indonesia. Bangunan museum, yang semula merupakan pabrik gula, kemudian beralih fungsi menjadi sanggar pesawat tempur dan pesawat angkut yang pernah dimiliki TNI Angkatan Udara.Pada awalnya museum ini berada di Jakarta, namun karena Yogyakarta merupakan kota kelahiran TNI AU, maka dipindahlah museum ini ke Yogyakarta.

MBS Muhammadiyah Yogyakarta melaksanakan kegiatan kunjungan ke museum Dirgantara yang terletak di Kompleks Lanud Adisutjipto, Jalan Kolonel Sugiono, Karang Janbe, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Senin, 11 Agustus 2025. Sesaat sampainya di depan museum, para santri disambut dengan 4 patung yang menampilkan sosok Marsekal Muda Anumerta Agustinus Adisutjipto, Marsekal Muda Anumerta Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, dan Marsekal Muda Anumerta Abdul Halim Perdanakusuma. Patung-patung ini merupakan representasi dari para pendiri TNI AU yang juga dikenal sebagai Founding Fathers TNI AU. Didepan patung tersebut terdapat tulisan “Our mission is to flight and fly” dan “A great pilot with a hero’s soul” yang terletak di setiap dua patung tersebut.

Kemudian para santri di sambut oleh Bapak Gefi Saptoto yang telah menduduki sersan satu, sebagai pemandu pengenalan mengenai museum Dirgantara Adisucipto. Diruangan pertama santri diberikan penjelasan mengenai sejarah berdirinya museum Dirgantara dan para tokoh angkatan udara pada zaman terdahulu dan penjelasan mengenai simbol AU (Angkatan Udara). Simbol Angkatan Udara, yang dikenal sebagai Swa Bhuwana Paksa, memiliki makna mendalam yang melambangkan peran dan semangat TNI AU sebagai penjaga kedaulatan udara Indonesia. Lambang ini terdiri dari beberapa elemen yang masing-masing memiliki arti khusus.

Diruangan kedua, para santri disuguhkan dengan pesawat yang di bawa oleh tokoh Adisucipto pada saat memperjuangkan kemerdekaan indonesia. Pesawat tersebut merupakan pesawat peninggalan jepang yang di badan dan sayap pesawatnya terdapat bendera merah putih sebagai lambang bendera negara Indonesia. Di dinding ruangan tersebut terdapat foto-foto tokoh penting TNI AU beserta dengan sejarahnya masing-masing.
Selanjutnya para santri menuju ruangan yang berisi tentang sejarah TNI AU yang bisa menjadi dokter, sejarah adanya Rumah Sakit AU, sejarah radio perhubungan AU RI dalam mempertahankan kemerdekaan, dan sejarah operasi lintas udara pertama yang dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 1947.
Diruangan berikutnya para santri di perlihatkan mengenai seragam atau pakaian dinas AU, terdapat atribut seragam asli tokoh AU yang di pajang, serta di bagian dinding sebelah kiri terdapat tulisan-tulisan sejarah operasi militer angkatan udara Indonesia.
Setelah itu para menuju ruangan yang berisi daftar nama Kodiklat AU, Alumni angkatan AU, Sesko AU, Koharmat AU, Koopsud AU, Koopsudnas AU, hingga peta wilayah Koopsud AU di Indonesia.

Kemudian para santri munuju ruangan Alutsista yaitu ruangan yang berisi pesawat militer Indonesia, helikopter, pesawat bom, mobil Jeep, pesawat tempur, hingga peluru kendali yang digunakan pada saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Diruangan tersebut terdapat kurang lebih 30 pesawat dan helikopter di dalamnya. Juga tidak lupa, terdapat setengah bagian badan pesawat VT – CLA. Pesawat Dakota VT-CLA adalah pesawat Douglas DC-3 yang ditembak jatuh oleh pesawat tempur Belanda P-40 Kittyhawk pada tanggal 29 Juli 1947 di dekat Maguwo (sekarang Lanud Adisutjipto), Yogyakarta. Pesawat ini sedang dalam misi kemanusiaan, membawa bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya (Singapura) ke Yogyakarta, yang juga menewaskan dua tokoh penting sejarah Angkatan Udara.Dan selanjutnya ruangan berisi dengan miniatur terjadinya peristiwa penting mengenai AU, ruangan senjata yang digunakan TNI AU, ruangan satelit, dan yang terakhir adalah ruangan kecabangan olahraga Dirgantara.
Setelah menyelesaikan sejarah- sejarah yang berada di dalam museum Dirgantara.


Yuk, bagikan halaman ini...
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments