Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta, Fadhlurrahman, menekankan pentingnya pendidikan anak Islami yang serius untuk generasi mendatang. Ceramahnya di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Ahad (12/04) mengajak orang tua fokus pada kesiapan anak menghadapi tantangan zaman, termasuk dampak gawai berlebih.

Pentingnya Kedekatan Anak dengan Agama
Dalam tausiyahnya, Fadhlurrahman menyatakan bahwa taat kepada Allah adalah indikator utama kualitas generasi muda.

“Jika anak sudah taat kepada Allah, maka kepada orang tua pun akan taat. Sebaliknya, jika kepada Allah saja membangkang, kepada orang tua bisa lebih membangkang,” ujarnya.

Ia mengutip Al-Qur’an, memperingatkan orang tua agar tak meninggalkan generasi lemah di iman, ilmu, atau ekonomi. Namun, kelemahan iman dan akhlak jauh lebih berbahaya daripada masalah materi.

Tantangan Gawai: Doom Scroll dan Brain Rot pada Anak
Fadhlurrahman menyoroti bahaya tantangan gawai anak seperti doom scroll—kebiasaan scrolling media sosial berjam-jam tanpa tujuan—dan brain rot, penurunan kualitas berpikir akibat konten instan.

“Anak-anak sekarang lebih terpapar konten singkat menghibur tapi tidak mendidik. Nasihat panjang orang tua kalah saing dengan video pendek,” jelasnya.

3 Fase Pendidikan Anak ala Ali bin Abi Thalib
Ia ajak orang tua terapkan konsep pendidikan anak Islami dari Ali bin Abi Thalib:

Usia 1-7 tahun: Main sambil beri kasih sayang, prioritaskan kehadiran emosional (hindari teori attachment John Bowlby yang rusak mental anak).

Usia 8-14 tahun: Tanam adab dan disiplin.

Usia 15-21 tahun: Diskusi rasional dengan lembut.

Gunakan metode kreatif seperti lagu Islami untuk ajar rukun iman, rukun Islam, dan kisah Nabi—lebih efektif daripada hafalan kaku.

Peran MBS Muhiba Yogyakarta dalam Mempersiapkan Generasi Tangguh
Pesan Fadhlurrahman selaras dengan program MBS Muhiba Yogyakarta, lembaga boarding school Muhammadiyah yang fokus membentuk generasi muda berilmu, berakhlak mulia, dan tangguh. Melalui kurikulum nasional plus kepesantrenan, MBS Muhiba terapkan disiplin 24 jam, hafalan Qur’an, bahasa Arab/Inggris aktif, serta ekstrakurikuler seperti Tapak Suci dan Hizbul Wathan untuk bangun karakter holistik.

Lembaga ini hadir sebagai solusi praktis bagi orang tua, mengintegrasikan pendidikan fase Ali bin Abi Thalib dengan pembinaan mental kuat—melawan dampak gawai sambil siapkan pemimpin berkompeten sosial.

Kritik Pola Asuh Memanjakan dan Pembiasaan Ibadah
Fadhlurrahman kritisi pola asuh manjakan yang ciptakan anak tak siap dewasa. “Anak perlu dilatih kesulitan untuk mental kuat,” tegasnya.

Pentingkan pembiasaan ibadah konsisten, kutip hadis Nabi: amalan terus-menerus meski sedikit paling dicintai Allah. Tiru kelembutan Nabi pada Anas bin Malik.

Pesan Penutup: Keluarga Kuat untuk Generasi Saleh
“Kekuatan keluarga fondasi generasi saleh. Hadirkan diri sebagai orang tua, bukan sekadar fasilitas,” pesannya.

Ceramah ini ingatkan peran aktif orang tua di era digital untuk pendidikan anak Islami yang holistik—spiritual, emosional, intelektual—didukung institusi seperti MBS Muhiba Yogyakarta.


Yuk, bagikan halaman ini...
1 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments